Perlukah Prasekolah atau PAUD untuk anak

Perlukah atau tidak prasekolah paud TK kelompok bermain KB bagi anak ? Pendidikan anak usia dini perlu atau tidak ? Anak-anak masuk prasekolah bukan pemandangan baru lagi di kota-kota besar. Di usia 2 atau 3 tahun mereka sudah bersekolah sebenarnya Seberapa penting si prasekolah itu temukan jawabannya Disini.

Banyak orang mengira prasekolah atau pendidikan anak usia dini adalah bagian pendidikan formal padahal tidak. Kelompok belajar atau prasekolah umumnya dibagi dalam dua kelompok yaitu kecil dan besar. KB atau TK kecil adalah untuk anak-anak berusia 2 tahun dan KB atau TK besar untuk anak-anak berumur 3 tahun.

Sesudahnya di usia 4 tahun anak masuk TK dan di usia 6 tahun anak mulai belajar di SD. Seperti itulah yang kebanyakan terjadi saat ini. Dalam anggapan beberapa faktor penyebab munculnya prasekolah adalah makin minimnya kesempatan anak bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Perlukah Prasekolah atau PAUD untuk anak


Mungkin di lingkungan Perumahan ada anak-anak kecil yang bisa diajak bermain. Orang tua masa kini punya kekhawatiran tersendiri jika melepas anaknya bermain.

Ini terutama terjadi di kota-kota besar di mana kebanyakan orang tua ayah dan ibunya bekerja. Ruang lingkup anak untuk bermain pun sempit hanya di rumah. Jadi anak dimasukkan ke prasekolah supaya bisa bersosialisasi.

Para orang tua yang bekerja ini merasa bahwa daripada dititipkan dengan asisten rumah tangga di rumah atau berdiam diri saja dengan pengasuhnya lebih baik anak dititipkan di sekolah.

Banyak orangtua memang tidak menargetkan anaknya untuk langsung jadi pintar, tapi hanya untuk bisa bermain dan bersosialisasi. Kita tidak bisa memungkiri itu alasan yang cukup realistis. Orang tua merasa tidak ada jaminan pengasuh akan memberikan yang terbaik bagi anak. Di sekolah paling tidak buah hati bisa bergaul dengan anak-anak lain dan belajar sedikit-sedikit.

Sepintas terkesan bahwa pilihan prasekolah ini hanya untuk anak-anak Yang Kedua orang tuanya bekerja. Karena tidak bisa didampingi di rumah anak pun dimasukkan ke prasekolah. Ternyata ada juga pasangan orang tua yang tetap memasukkan anaknya ke prasekolah meski salah satu dari mereka ibu atau ayahnya berada di rumah. Ini terjadi karena ada tuntutan dari lingkungan.

Kalau orang-orang di komunitas saya memasukkan anaknya ke prasekolah masak Saya tidak melakukan hal yang sama. Secara psikologis ada kekhawatiran dalam diri orang tua.

Ada dilema

Di dalam diri orang tua terjadi dilema. Mungkin juga termasuk di dalamnya adalah kita. Sebaiknya kita memasukkan anak ke prasekolah atau tidak? Bagaimana jika kita merasa itu tidak diperlukan ?

Kita sebagai orang tua punya dua pilihan yaitu memasukkan anak kepada sekolah atau melatih sendiri Si Buah Hati di rumah. Di TK atau KB kegiatan utama anak adalah bermain. Tetapi bermain pun bisa menjadi proses belajar yang berharga. Konsep bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain inilah yang digunakan di dalam pendidikan anak usia dini PAUD KB atau TK.

Itu sebabnya aktivitas prasekolah tidak langsung setiap hari. Ada yang hanya dua kali seminggu dan ada juga yang tiga kali seminggu. Permainan-permainan di prasekolah di ranjang supaya anak bersosialisasi dan untuk menstimulasi semua perkembangannya. Motorik kognitif dan lainnya. Akhirnya anak-anak prasekolah terlihat lebih baik ketimbang anak yang tidak dimasukkan ke prasekolah dan tidak mendapatkan stimulasi dari orang tuanya.

Sebenarnya tidak apa-apa jika kita memilih mengajar anak di rumah namun setelah makan beberapa pakar kebanyakan saya tidak berani mengajari anaknya sendiri. Alasannya bermacam-macam. Takut salah mengajar. Nanti hasilnya sesuai standar dan lain lain. Bisa juga orang tua memang tidak berupaya mengajarkan anaknya karena sudah sibuk sekali di kantor.

Selain itu apabila tidak dimasukkan ke prasekolah anak dikhawatirkan bisa tidak berkembang atau kalah bersaing dari anak-anak seusianya. Sementara anak orang-orang lain sudah biasa ini itu.buah hati kita masih begitu begitu saja. Belum lagi tuntutan di dunia pendidikan. Banyak SD menghaluskan calon murid nya sudah bisa menulis dan membaca. Kalau tidak dilatih sejak awal Apakah anak akan bisa bersaing? Bisa tidak anak kita menyamai anak-anak lain kalau mereka sudah lebih dulu belajarnya.

Di sisi lain ada juga kekhawatiran yang muncul Kalo sejak dini anak sudah disekolahkan. Mungkin suatu hari nanti ia akan bosan bersekolah. Mungkin saja di kelas 1 SD ya sudah malas-malasan. Kalau kejadian lantas bagaimana ? Anak mogok sekolah. Itu pendapat orang kebanyakan. Tidak ada bukti bahwa anak bisa bosan kecuali memang ada pengalaman traumatis. Anak pun sebenarnya punya kebutuhan bersekolah.

Anak bisa bosan bersekolah apabila mengalami kejadian traumatis atau sejak prasekolah. Yang diajarkan kepadanya melulu hal-hal akademis. Jadi penting sekali bagi kita untuk selektif mencari prasekolah.

Ketahui tujuannya

Kita harus tahu dengan pasti tujuannya apabila memang ingin memasukkan anak ke prasekolah. Jika tujuan kita ABC Apakah sekolah itu bisa mewujudkannya? Di prasekolah komposisi bermain anak harus lebih besar daripada belajar. Kalaupun belajar bentuknya Harus sambil bermain. Lewat permainan anak akan belajar bersosialisasi, mengenal warna motoriknya berasal dan lain-lain.

Ade dampak-dampak tertentu yang mungkin terjadi ketika anak dimasukkan ke prasekolah. Penyebabnya bisa karena visi prasekolah tidak selaras dengan tujuan yang ingin dicapai dan orang tua memiliki harapan atau tuntutan yang terlalu tinggi. Seperti Saya ingin anak saya sudah bisa buang air kecil sendiri. Kalau ingin buang air kecil harus ngomong . Anak seharusnya sudah bisa menendang bola.

Hal-hal seperti itu ia melanjutkan belum tentu secara mutlak diubah di prasekolah. Kita bisa kecewa sendiri apabila Harapan itu tidak terwujud. Itulah yang terjadi pada orang tua Saat ini apalagi jika biaya pra sekolah nya mahal. Dengan tari prasekolah yang tinggi orang tua beranggapan bahwa sudah seharusnya anak akan bisa ini itu. Ini salah besar. Mereka tidak bisa mengharapkan sekolah mengambil alih seluruh tanggung jawab mereka sebagai orang tua.

Tak heran jika lantas ada orang tua yang menganggap Percuma saja memasukkan anaknya ke sekolah mahal. Padahal kegagalan ini bisa terjadi kalau stimulasi yang diberikan di sekolah tidak sesuai dengan nilai dan pola asuh keluarga di rumah. Yang seharusnya kita lakukan adalah bekerjasama dengan pihak sekolah. Kita harus tahu apa saja yang dianjurkan kepada anak.
Di rumah kita membantunya mengembangkan apa yang sudah didapat.
Sebaliknya jika ingin mengajar anak di rumah kita harus terus mengasah dan memperbaharui pengetahuan tentang perkembangan anak. Setiap perkembangan anak harus distimulasi dengan cara yang berbeda. Kalau takut salah mengajar cobalah konsultasi dengan para ahli. Untuk mendapatkan banyak informasi melalui macam-macam sumber misalnya buku majalah dan internet.

Mengajarkan anak di rumah butuh kerja keras. Pastikan anda benar-benar siap melakukannya di tengah-tengah segala kesibukan anda. Masih ada urusan pekerjaan yang harus diperhatikan, urusan rumah tangga urusan suami urusan anak dan lain lain. Jika jumlah anak anda lebih dari 1 dan sebagainya. Sekarang tidak sedikit jumlah orang tua yang idealis termasuk ibu.

Para ibu ini memutuskan Berhenti bekerja dengan fokuskan diri pada anak. Jadi yang dilakukan hanyalah mantengin anak. Padahal anak berkembang secara alamiah. Kalau terus menerus melototi anak. Kita tidak akan bisa melihat perubahan pada diri anak. Kita juga tidak belajar apa-apa mengenai proses perkembangannya.

Teguh dengan pilihan

Jika mendapat tantangan atau mendengar komentar-komentar miring dari orang-orang disekitar kita mesti tetap bersabar. Ketika melihat anak kecil sudah bersekolah, bukan tidak mungkin. Orang orang berkomentar seperti itu. Ada pengorbanan yang harus dilakukan kedua orang tua. Jika mendapat kecaman dari orang lain.. sebaiknya ayah dan ibu tetap bertahan dengan keputusan mereka.

Ada satu hal lagi yang umum terjadi di kalangan orang tua sekarang. Yaitu menitipkan anak di rumah kakek neneknya sementara mereka bekerja. Bagaimana jika apa yang diajarkan di pra sekolah tidak sejalan dengan nilai yang berlaku di rumah kakek nenek? Kita harus punya kebesaran hati untuk berdiskusi mengenai hal ini dengan orang tua. Ada kok orang tua yang bersedia mengikuti pola asuh kita sendiri. Mintalah secara baik baik kepada mereka.

Jika ternyata ada perbedaan antara prasekolah dan pengasuhan kakek nenek, itu adalah konsekurnsi yang harus dihadapi.

Dipra sekolah dan rumah.
Beberapa tips tips dibawah ini mungkin dapat membantu anda memilih yang terbaik.

Diprasekolah

Pahami betul tipe dan kurikulum sekolah yang dipilih. Cocok atau tidak dengan anak dan nilai di rumah. Sesuaikanlah target dan harapan tentang anak dan sekolah. Di prasekolah berarti targetnya jangan terlalu Muluk. Target normal untuk anak usia 2-3 tahun adalah sosialisasi dan perkembangan motorik.

Dirumah

Siapkan aktifitas aktifitas yang menstimulasi anak dalam perkembangan sosialnya. Membaca buku dan bermain dengan anak anak tetangga merupakan bentuk sederhana nya.beberapa orang tua khawatir anaknya tertular hal hal negatif dari lingkungan. Yakinlah bahwa suatu saat nanti anak-anak akan bisa memilah yang baik dan buruk.jadi rajin rajinlah mengajarkan yang baik kepada anak. Jika anak melakukan kesalahan berikan nasihat tanpa marah marah.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perlukah Prasekolah atau PAUD untuk anak"

Posting Komentar