Cara Tangani Segera Trauma Anak

Cara Tangani, mengobati Segera Trauma Anak. Cara efektif menghilangkan dan mengatasi trauma psikologis pada balita remaja dan anak anak. Banyak orang tua tidak menyadari jika buah hatinya mengalami trauma. Padahal jika tidak segera ditangani, gangguan itu bisa mengganggu kehidupan anak.beberapa contoh kasus misalnya Setiap mendengar suara petir anak langsung menutup telinga dan memejamkan mata. Sang Ibu mengira kelakuan putrinya mungkin terasa biasa saja. Ia tidak memperhatikan bahwa setiap ada petir Si anak selalu ketakutan, bahkan sampai menangis tersedu-sedu. Saya pikir Wajar saja kalau anak-anak takut sama petir, jadi, saya tidak terlalu khawatir. Paling-paling saya akan membujuknya dengan membacakan sebuah cerita. Begitu mendengar cerita, biasanya anak akan tenang kembali. Menurut beberapa psikolog anak, , sikap anak yang selalu menutup telinga sambil menangis ketika ada petir, bukanlah ketakutan biasa, melainkan trauma. Dalam ilmu psikologi, trauma didefinisikan sebagai pemrosesan informasi yang terhambat. 

Trauma itu seperti luka pada jiwa atau batin. Karena lukanya tidak terlihat, otomatis perlu penanganan khusus. Kalau dibiarkan begitu saja, trauma itu akan berkembang dan terbawa terus sampai anak-anak tumbuh besar. Peristiwa yang Menimbulkan trauma sering terjadi pada anak-anak yang berusia 2 -3 tahun. Di usia tersebut, anak belum mampu bercerita dengan jelas tentang ketakutan yang dialami. Seharusnya orang di sekitar si anak lah yang tahu dengan memperhatikan adanya perubahan perilaku. Setiap anak yang mengalami trauma pasti perilakunya juga berbeda. Ada yang berubah pada dirinya. Dari yang biasanya nakal, 

jika ini terjadi pada buah hati, ini Orang tua harus segera mencari tahu apakah anak mengalami trauma atau tidak.Ringan atau berat , trauma dapat dibagi menjadi dua: ringan dan berat. Yang dialami anak seperti contoh kasus diatas tergolong ringan. Buktinya, beberapa saat kemudian Si anak langsung dapat beraktivitas seperti biasa. Dia hanya akan trauma kembali jika menghadapi hal serupa. Tapi meski kadarnya ringan, bukan berarti orang tua boleh membiarkannya begitu saja. Trauma kecil seperti itu akan sangat mengganggu karena bertahan sampai anak dewasa. Contoh lainnya seperti ini: ada orang tidak suka pada wanita bernada suara tinggi dan memakai baju biru setengah, ternyata waktu kecil dia sering dimarahi tantenya dengan nada bicara tinggi. Si tante pemarah tersebut sering memakai baju biru. Karena trauma itu dibiarkan begitu saja, Akhirnya sampai dewasa, si anak bisa ketakutan melihat wanita dengan baju biru dan suara tinggi. 

Trauma Anak

Sosok seperti ini mengingatkannya pada masa-masa traumatis saat kecil. Lalu ada pula yang disebut trauma besar atau berat: contohnya anak yang dijual ke luar negeri, dipukuli orang tua, mengalami kecelakaan lalu lintas, dan lain-lain. Biasanya trauma itu akan mengganggu kegiatan kegiatannya sehari-hari, seperti bermain atau belajar. Kejadian yang menakutkan dan membuatnya trauma Itu disimpan baik-baik dalam ingatan si anak. Ingatkan itu dapat berupa gambar, suasana atau suara. Rekaman Ingatkan juga dapat berasal dari penciuman. Misalnya seorang anak trauma karena rumahnya terbakar. Setiap kali mencium bau gosong, pikirannya langsung melayang pada peristiwa kebakaran yang sangat mengerikan. Akibatnya, ia langsung keringat dingin atau ketakutan. Padahal sebenarnya bau gosong itu hanya berasal dari barang kecil yang terbakar. Padahal sebenarnya bau gosong itu hanya berasal dari barang kecil yang terbakar.

Terapi trauma

Apapun jenisnya, trauma pada anak dapat dihilangkan. Itulah yang disampaikan Connie. Kalau tarafnya ringan, proses penyembuhannya bisa ditangani sendiri oleh orang tua. Dengan catatan, orang tua benar-benar mau menyisihkan waktu dan fokus pada anak. Misalnya pada kasus diatas. Ayah dan ibunya perlu mengajarkan lagi dari awal bahwa petir bukan hal menakutkan. Ajaklah si anak menghadapi ketakutannya. Saat ada petir, jangan mengajaknya bersembunyi di kamar. Bersikaplah biasa saja sambil memberi penjelasan ringan tentang petir. Kalau ada anak yang trauma bersekolah karena takut pada guru atau ada penyebab lain, orang tua perlu mengambil langkah khusus. Pindah sekolah bukanlah jalan yang dianjurkan. 

Sebaiknya Biarkan anak di sekolah tersebut agar ia terbiasa menghadapi persoalan. Dia juga harus belajar bahwa setiap persoalan perlu diselesaikan, bukan dihindari. Tapi untuk dapat mencapai hal itu tentu diperlukan kerjasama antara orang tua, pihak sekolah, dan anak yang bersangkutan. Jika trauma itu sulit diatasi, biasanya anak akan dirujuk ke psikolog untuk menjalani terapi. Yang penting diketahui di sini orang tua tidak boleh lengah. Jangan Anggap trauma anak sebagai hal yang tidak membahayakan. Jangan lupa juga, proses belajar itu panjang. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Jika anak belum sembuh betul, traumanya bisa terulang lagi. Hal-hal yang terlihat kecil bagi orang tua,

Belum tentu sama bagi anak. Kalau ini terjadi, lebih baik berkonsultasi dengan ahlinya. Dalam menghadapi trauma, biasanya orang cenderung menghindar atau lari dari pemicu. Kalau takut kecoa, pasti tak mau melihat kecoa. Beberapa tahun lalu terapi yang dilakukan adalah meminta anak melihat kembali pemicu dalam bentuk gambar, mainan, Atau lainnya. Jika takut kecoa, Iya akan ditunjukkan gambar kecoa. Sekarang saya menangani anak trauma dengan metode lain, yaitu mengajak dia bercerita tentang traumanya. Saat bercerita, si anak akan mengingat lagi hal-hal atau peristiwa traumatis tersebut. Dia pasti ketakutan. Karena itu kita pegang tangannya dan katakan bahwa benda atau kejadian yang membuat trauma tersebut tidak ada di situ. Dia aman. 

Jadi intinya kita membuat dia mengingat kembali dan menunjukkan bahwa tidak terjadi hal buruk. Proses ini memang menimbulkan rasa takut dan tidak nyaman, tapi Yakinlah anak bahwa dia tetap aman. Pemicu trauma bentuknya bisa bermacam-macam. Namun, ternyata Berdasarkan pengalaman dalam menangani trauma, kebanyakan penyebabnya adalah sosok yang paling dekat dengan si anak. Anak yang datang pada saya sebagian besar berusia 6 -15 tahun. Konsultasi paling banyak adalah trauma terhadap figur terdekat. Contohnya: anak trauma karena orang tua bercerai, atau trauma yang berhubungan dengan sekolah, Seperti mendapat nilai jelek lalu dimarahi orang tua. Sayangnya, kadang orang-orang terdekat itu tidak sadar kalau mereka sudah menyebabkan anak trauma. Apapun bentuknya, kecil atau besar, ringan atau berat, trauma pada anak harus ditangani dengan sungguh-sungguh. Jika dibiarkan, itu tentu menimbulkan ketidaknyamanan. Selain itu, trauma yang dibiarkan bisa berkembang menjadi fobia yang pasti akan menimbulkan gangguan lebih serius.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Cara Tangani Segera Trauma Anak"

Posting Komentar